Labels

Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Sunday, March 21, 2010

Menyikapi Ujian Hidup Ala Mukmin

Jika manusia diberi kebebasan untuk memilih antara hidup senang di dunia tanpa beban masalah, cobaan hidup atau hidup senang dengan dibumbui dengan ujian-ujian hidup, maka mayoritas akan memilih hidup senang tanpa dibebani oleh ujian atau masalah-masalah hidup. Mengapa demikian ?. Karena sudah menjadi sifat manusia menyukai sesuatu yang memberikan kesenangan, kenikmatan dan kebahagiaan. Di sisi lain ada golongan manusia yang teguh berkeyakinan bahwa dunia ini hanya sekedar tempat persinggahan sementara, kemudian pada akhirnya akheratlah tempat akhir dari perjalanan hidup. Mereka ini senantiasa menikmati hidup dengan tetap menjaga kesyukuran, baik disaat lapang atau sempit. Golongan ini lazimnya disebut sebagai orang-orang mukmin sebagaimana disabdakan oleh Rosululloh SAW ketika menggambarkan bagaimana cara orang-orang mukmin dalam menyikapi cobaan-cobaan hidup “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan tidaklah didapatkan pada seorang pun hal tersebut melainkan pada diri seorang mukmin : Jika dia merasakan kesenangan maka dia bersyukur. Dan itu lebih baik baginya. Jika kesusahan menerpanya, maka dia bersabar. Dan itu lebih baik baginya.” .

Ada beberapa faedah (yang bisa kita ambil) dari hadits ini :

1. Adanya dorongan (untuk tetap kokoh) diatas keimanan. Dan seorang mukmin senantiasa dalam kebaikan dan kenikmatan.
2. Adanya dorongan untuk sabar atas kesusahan yang menimpa. Karena (sabar) merupakan perangai keimanan. Apabila anda sabar dalam menghadapi kesusahan dan diiringi dengan menanti (pertolongan) Allah agar dibebaskan dari (kesusahan tersebut). Kemudian mengharap pahala Allah Subhanahu wata’ala, maka hal tersebut merupakan tanda keimanan.
3. Adanya dorongan untuk bersyukur tatkala (memperoleh) kesenangan. Jika seorang bersyukur kepada Rabbnya atas nikmat yang diperoleh. Maka ini adalah taufiq dari Allah dan termasuk salah satu sebab bertambahnya kenikmatan.

Dari hadist di atas, kita dapat mengetahui kriteria-kriteria yang menjadi karakter mukmin sejati. Ketika orang mukmin tertimpa suatu musibah, cobaan atau masalah maka dia menganggap baik segala ketentuan Allah baginya. Jika kesusahan itu menimpanya, maka dia bersabar atas ketentuan-ketentuan Allah dan senantiasa menanti pertolongan-Nya serta mengharapkan pahala Allah. Semua itu merupakan perkara yang baik baginya dan dia memperoleh ganjaran kebaikan selaku orang-orang yang bersabar. Jika kesenangan itu mendatanginya, baik berupa kenikmatan agama ; seperti ilmu, amalan sholih dan kenikmatan dunia ; seperti harta, anak-anak dan keluarga, maka dia bersyukur lagi menjalankan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.

Oleh karena itu, seorang mukmin memperoleh dua kenikmatan, yaitu : kenikmatan agama dan dunia. Kenikmatan dunia diperoleh dengan kesenangan dan kenikmatan agama diperoleh dengan bersyukur. Maka inilah kondisi seorang mukmin. Adapun mereka yang telah kita sebutkan di awal, yaitu orang-orang pemburu kesenangan duniawi dan menjadikan hidup sebatas mencari kesenangan semata. Maka ketika mereka ditimpa suatu musibah, ujian hidup bahkan musibah, mereka akan berkeluh kesah, mencemooh, mengutuk, mencerca masa (waktu) bahkan mencela Allah Azza wa Jalla. Naudzubillah min dzalik. Jika kesenangan menghampirinya, dia tidak bersyukur kepada Allah. Maka kesenangan ini akan menjadi balasan siksaan di akhirat. Maka kondisi orang kafir tetap jelek, baik mendapatkan kesusahan maupun kesenangan. Berbeda halnya dengan orang mukmin yang senantiasa dalam kebaikan dan kenikmatan.

Selama roda kehidupan terus berputar, seorang takkan pernah luput dari menuai ujian dan cobaan. Dengan berbagai musibah yang datang silih berganti ini, hendaknya seorang introspeksi diri dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bukan mengambil jalan pintas dengan mengklaim ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Karena tidak ada yang bisa memberikan solusi terbaik dari berbagai ujian dan cobaan hidup melainkan hanya Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman : “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (Al Baqarah : 214).

Alangkah indahnya jika kita yang telah mengikrarkan bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa dan Muhammad adalah utusan-Nya berperangai seperti seorang mukmin. Ketika menghadapi ujian-ujian hidup dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah kepada kita, mensyukuri datangnya ujian tersebut dan menjadikan hikmah dibaliknya sebagai pelajaran berharga. Jika ujian itu datang berupa nikmat, maka tetap kita syukuri dan tetap berprasangka baik bahwa Allah memberikan kenikmatan sebagai penghargaan atas kesabaran kita dalam menghadapi segala cobaan-Nya. Dan jika ujian itu datang berupa kesulitan, kesusahan, kemiskinan, kelaparan, musibah dan sebagainya, maka kita bersabar atas ujian tersebut. Dan berusaha tetap berprasangka baik dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menimpakan sebuah cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Dua perangai tersebut, yaitu syukur dan sabar merupakan amalan yang agung, bahkan keduanya termasuk dalam perangai keimanan. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama : “Iman itu dua bagian, bagian pertama adalah sabar dan bagian kedua adalah syukur”. Maka tidak ada jalan lain untuk solusi yang cerdas keluar dari masalah yang kita hadapi kecuali dengan menjadikan diri sendiri cerminan dari orang-orang mukmin.

Wallahu A’lam.

Oleh : Khoirul Fata (kru Qommunityradio Studio Kairo)
Sumber : Qommunity Radio network

Saturday, March 6, 2010

Di mana Letak Tembok Zulkarnain ?

Mereka berkata, ‘Wahai Zulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj merusak di bumi. Maka tolong engkau buatkan tembok pembatas antara kami dan mereka.’” (Q.S. Al Kahfi 18: 94)
Sekitar 50 km di utara Beijing, ada sebuah desa di kaki bukit bernama Badaling. Dari sinilah para turis memasuki pintu gerbang menuju Tembok Besar Cina (The Great Wall). Pemandangan dari atas tembok sangat indah. Tembok sepanjang 6000 km itu konon bisa terlihat dari bulan. Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam surat Al Kahfi. Dan yang disebut Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al Kahfi ayat 95-98 tentang itu.

Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.

Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Zulkarnain. Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dst. Sambung-menyambung. Ketiga, dalam Al Kahfi ayat 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah berfirman, “Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi. Jadi di manakan tembok Zulkarnain?

Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.

Sekarang sudah tidak ada dinding besi di sana, tetapi Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 m dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu. Subhanallah.

Bagaimanapun ini masih berupa spekulasi yang perlu diteliti lebih mendalam. Para arkeolog muslim harus terus mencari lagi tembok itu di berbagai tempat lain berdasarkan artefak-artefak dan dongeng rakyat di pelosok dunia yang mirip-mirip uraian Allah dalam surat Al Kahfi tadi. Jangan cepat-cepat berkata bahwa Kisah Zulkarnain di surat Al Kahfi hanyalah tamsil ibarat yang tidak perlu ada kenyataannya. Bahwa ayat Al Quran cukup untuk dibaca dan diimani saja. Wah, bukankah pendapat semacam ini sangat gegabah, menganggap Allah hanya mendongeng? Astaghfirullah. Kita harus yakin bahwa setiap kisah dalam Al Quran adalah benar. Dan kita ditantang untuk membuktikannya dalam rangka memuliakan agama Allah. Wallahu a’lam.

Sumber : percikaniman.org

Friday, February 5, 2010

Sa’ad Bin Khaitsamah Bin Al-Harits

Seorang ayah yang bernama Khaitsamah bin al- Harits dengan anaknya yaitu Sa’ad mengundi siapa di antara mereka berdua yang akan ikut dalam perang Badar kali ini. Kemudian undian keluar dengan nama Sa’ad. Serta merta ayahnya berkata kepada anaknya, "Wahai anakku, berikanlah giliran kali ini kepadaku."

Sang anak menjawab, "Wahai ayah, sekiranya balasan dari berangkat menuju perang Badar ini bukan Surga tentu akan aku berikan kepada ayah." Kemudian Sa’adlah yang berangkat ke perang Badar dan ia terbunuh dalam peperangan ini.

Sementara ayahnya masih terus menerus menunggu-nunggu kesempatan dapat ikut peperangan demi menggapai Surga, maka cita-citanya terkabulkan pada peperangan Uhud. Dalam peperangan tersebut dia gugur. (Al-Ishabah 2/24.)

Sumber : http://www.alsofwah.or.id

Friday, January 29, 2010

Pada Detik Keberapakah Akhir Hidupmu?

Kita tidak pernah tahu pada detik yang manakah jarum itu akan berhenti...

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (Q.S Al An’am [6]: 60)

Dale Carneige pernah berkata “Today is the first day of the rest of your life” (Hari ini adalah hari pertama dari sisa hidupmu).

Adakah diantara kita yang mengetahui berapa lama sisa dari hidup yang kita miliki?10 tahun?10 bulan?10 hari?10 menit?atau boleh jadi 10 detik lagi sisa hidup yang kita miliki. Allah sudah menentukan di detik mana usia kita berakhir.

Pernahkah anda di suatu waktu, ketika anda pulang dari segala aktivitas yang anda kerjakan kemudian anda terduduk dan menatap jarum jam yang bergerak, detik demi detik terus bergerak. Lalu, hati kecil anda berkata di detik manakah usia ini akan berakhir? Lalu seberapa banyak bekal yang sudah dipersiapkan?

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan” (Q.S Al Munaafiquun [63]: 10-11)

Ketika detik itu sampai pada kita, apa yang bisa kita lakukan? tidak ada! Mungkin sebuah penyesalan, di dalam ayat tersebut digambarkan sebuah penyesalan orang yang sudah menemui ajalnya.

Kita semua tahu, penyesalan selalu datang kemudian. Hanya saja karena kita belum mengalaminya, tak jarang kita melakukan hal-hal yang sesungguhnya kita tahu itu akan membuahkan penyesalan.

Abu Hurairah menangis ketika sakit menjelang kematiannya. Lalu, ada yang bertanya, “Kenapa anda menangis?” beliau menjawab, “Aku tidak menangisi dunia kalian ini, tetapi menangisi jauhnya perjalananku serta sedikitnya bekalku. Sesungguhnya aku berdiri di atas ketinggian yang akan membawaku ke atas syurga dan neraka, tetapi aku tak tau ke mana aku hendak dibawa.”

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, Aun bin Abdullah berkata, “Tak ada orang yang bisa menempatkan kematian sebagaimana mestinya, kecuali orang yang melihat hari besok bukan bagian umurnya. Berapa banyak orang yang menghadapi hidup hari ini, tapi ia tak bisa menyempurnakannya sehingga tak sampai hari esok. Sungguh, sekiranya kamu melihat ajal dan perjalanannya, pastilah kamu akan membenci angan-angan dan tipu dayanya.”

Coba sekarang anda lihat jam di dinding, jarum jam itu terus berdetak hingga saat batreainya habis, tapi kita tidak pernah tahu pada detik yang manakah jarum itu akan berhenti. Begitu pula dengan jantung kita terus berdetak hingga saatnya tiba, kita tidak tahu di detik yang manakah akhir dari perjalanan hidup kita untuk itulah persiapkan diri kita, agar kapanpun waktu itu datang, kita siap untuk menghadapinya.

Nu’aim bin Hamad meriwayatkan, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Cukuplah kematian sebagai penasihat, cukuplah keyakinan sebagai kekayaan dan cukuplah ibadah sebagai kesibukan.” Semoga ini menjadi wasilah bagi kita semua. Amin.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber : Percikaniman.org

Friday, January 22, 2010

Wasiat Untuk Anak Dan Cucuku

Sekedar renungan untuk anak-anak dan cucu-cucu sebagai wasiat dari orang tua sebelum meninggalkan dunia yang fana ini.

BAGAIMANA BERBAKTI KEPADA ORANG TUA?

Berbakti kepada orang tua adalah merupakan kewajiban anak yang tidak boleh diabaikan sama sekali. Sebab betapa jerih payah serta pengorbanan-pengorbanan yang telah diberikan kepada kita selama merawat dan mendidik kita dari semenjak kita masih bayi hingga menjadi dewasa dan akhirnya sampai berdiri sendiri sebagai Ibu/ Bapak rumah tangga (yang seperti sekarang sedang kita lakukan, misalnya).

Bahkan sesudah berumah tanggapun orang tua kadang-kadang masih ikut memikirkan peri kehidupan dan kebutuhan-kebutuhan kita semuanya. Apabila ekonomi rumah tangga kita belum baik, maka orang tua ikut berusaha untuk membantu dengan sekedar memberi sokongan berupa uang, entah beras dan lain-lain sebagainya demi berdiri tegaknya rumah tangga yang kita bina. Apabila kita kebetulan bekerja di kantor dan tidak mempunyai pembantu, maka kita masih juga merepotkannya, dimana kadang-kadang Ibu/ Bapak diminta mau membantu merawat atau mengawasi cucunya, juga supaya mencarikan pembantu.

Namun demikian semuanya itu dilakukan oleh orang tua dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang. Mengingat hal yang demikian ini, maka sebagai seorang anak kita berkewajiban membalas budi baik orang tua kita tersebut. Walaupun dalam hal ini orang tua tidak mengharapkan pembalasan dari anak-anaknya.

Sebaliknya kita pun sebagai anak tidak mungkin dapat membalas budi serta semua pengorbanan
orang tua kita tersebut, kecuali hanya dapat dilakukan dengan jalan selalu berbakti kepadanya. Berbakti kepada orang tua ini tidak hanya dapat dilakukan dengan jalan memberikan kesenangan-kesenangan yang bersifat duniawiah saja, tetapi disamping itu dapat kita tempuh jalan yang lebih baik dan lebih utama, yaitu dengan cara selalu memenuhi harapan-harapan orang tua. Yang akhir ini kiranya malahan lebih membahagiakan hati orang tua. Sebab walaupun misalnya kita dapat memberi uang banyak, dapat membuatkan rumah yang bagus dan lain sebagainya, tetapi kalau sifat dan perbuatan kita terhadap orang tua kurang menghormati atau kurang menghargai, niscaya orang tua kita tidak akan merasa senang dan bahagia, tetapi malah menjadi menderita. Apalagi kalau perbuatan anak-anaknya tersebut memalukan, misalnya menjadi anak nakal, menjadi penodong, perampok, penipu dan lain-lain sebagainya.

Karena dengan demikian sebagai seorang anak kita tidak dapat memenuhi harapan-harapan orang tua. Sebab telah berbuat yang tidak dapat membalas budi baik serta semua pengorbanan orang tua, tetapi malahan membuat malu dan mencemarkan nama baiknya. Ini bukan berarti bahwa orang tua mengharapkan pembalasan dari anak-anaknya, kiranya tidak! Tetapi sebagai orang tua pasti mengharapkan agar supaya anak-anaknya tersebut men-junjung tinggi budi pekerti agar menjadi orang yang baik-baik, anak yang sholeh berbudi luhur serta tahu menghargai dan menghormati orang tuanya. Hal ini bagi orang tua kiranya sudah cukup membahagiakan dirinya. Oleh sebab itu kita harus menyadari bahwa berbakti kepada orang tua ini adalah sudah menjadi tugas kewajiban kita yang utama.

Walaupun kita tidak dapat memberikan kesenangan-kesenangan yang berupa harta benda, tetapi dengan jalan selalu memperhatikan nasehat-nasehatnya serta menghormatinya dengan secara wajar, niscaya orang tua tidak akan merasa kecewa.

Bagaimana Sebaiknya?

Sebagaimana yang telah kita singgung di atas, bahwa berbakti kepada orang tua itu tidak selalu harus dilakukan dengan jalan memberikan kesenangan-kesenangan yang berupa harta benda saja. Kecuali apabila kita mampu, hal ini alangkah baiknya dilakukan asal cara memberikannya itu jangan sampai menyinggung perasaannya, serta meninggalkan sopan santun yang berlaku antara anak dan orang tua. Persoalan ini dikemukakan di sini oleh karena banyak sekali di antara orang-orang tua yang menyatakan kepedihan hatinya, karena tidak dihargai dan dihormati lagi oleh anak-anaknya setelah mereka itu menjadi orang yang berpangkat, kaya dan lain sebagainya. Bahkan ada seorang anak yang setelah mempunyai kedudukan dalam masyarakat serta ada yang menjadi orang yang kaya raya lalu menjadi malu mengakui orang tuanya sendiri. Walaupun kadang-kadang ia masih mau mengirimkan kebutuhan yang sangat diperlukan oleh orang tuanya. Tentu saja anak yang demikian itu adalah anak yang durhaka, yang berdosa besar. Jadi sebaiknya, apabila kita memberikan sesuatu kepada orang tua itu hendaknya dengan cara yang halus sehingga tidak sampai menyinggung perasaannya. Sebab orang tua yang semakin lanjut usianya itu biasanya perasaannya pun menjadi semakin halus dan ini harus kita sadari bersama.

Oleh sebab itu terhadap orang tua, kita harus berlaku sopan, hormat, serta berhati-hati dalam tingkah laku serta berbicara. Sebab kalau sampai keliru perkataan kita, hal ini dapat membuat orang tua menjadi kecewa dan marah, yang kadang-kadang lalu berakibat mengurangi kedekatan hubungan antara orang tua dan anak. Apalagi kalau orang tua sudah marah dan tersinggung perasaannya, biasanya lalu menjadi lupa. Sehingga kadang-kadang sampai hati memberikan kutukan-kutukan yang tidak baik terhadap anak-anaknya tersebut. Hal yang demikian tentu saja harus kita hindari, sebab bagaimanapun juga kadang-kadang kutukan-kutukan orang tua yang diucapkan dalam keadaan marah dan kecewa itu biasanya dapat numusi juga (dapat jadi kenyataan). Walaupun kutukan-kutukan tersebut biasanya tidak seketika terjadi, tetapi entah kapan-kapan biasanya dapat terjadi juga keadaan yang aneh-aneh menimpa diri kita, yang semua itu tidak kita harapkan.

Maka untuk menghindari hal-hal yang demikian, sebagaimana pepatah orang-orang yang cerdik pandai (yang saleh) "...Lebih baik menghindarkan luka dari pada mengobati yang luka". Sebaiknya kalau orang tua sedang memberikan saran-saran atau nasehat-nasehat, walaupun saran atau nasehat-nasehat itu mungkin keliru, tetapi hendaknya kita jangan sampai membantah secara keras dan kasar dihadapannya. Tetapi lebih baik kita katakan akan difikir lebih dahulu atau mengatakan ..Ya saja. Dengan demikian orang tua tentunya akan merasa puas dan gembira, sehingga lain kali apabila kita mengajukan alasan-alasan untuk menolak saran atau nasehat tersebut, orang tua akan dapat berfikir secara sabar dan sadar.

Memang sebagai seorang anak, kitapun akan merasa senang dan bahagia, jika kita dapat membahagiakan hati orang tua. Apalagi kalau kita dapat membantu kerepotan-kerepotan orang tua, misalnya saja dapat mengirim uang belanja setiap bulan sekedar membantunya pembiayaan untuk kelangsungan hidupnya. Karena semakin tua tentunya beliaupun sudah semakin berkurang gairahnya dalam mencari nafkah dan kesehatannya pun semakin menurun.
Tetapi apabila kita tidak mampu, dengan selalu patuh terhadap orang tua, menghargai nasehat-nasehatnya yang baik serta menjunjung tinggi nama baiknya, inipun anda telah berbakti terhadap orang tua. Sebagai penutup semoga wasiat kami ini dapat berguna untuk anak cucu semuanya, sambil kita berdoa memohon kepada Allah SWT :
Ya Allah, kabulkanlah permohonan kami, Wahai Tuhan yang mengabulkan permohonan orang yang memohon. Ya Allah, bagaimana kami tidak akan mengadukan nasib kami kepada-Mu, padahal Engkau tempat kembali dari segalanya. Bagaimana kami tidak akan menyampaikan jeritan penderitaan kami kepada-Mu, padahal Engkaulah yang menjadikan kami dari tidak ada menjadi ada. Engkau berikan kami akal dan hikmah, Engkau berikan kami petunjuk dan hidayah, tetapi karena kelemahan kami, kami kadang-kadang ya Allah, kami sering tersesat di tengah jalan. Kalau Engkau hendak mencelakakan kami, tidak ada satu dayapun dari manusia yang dapat menghindarkannya, kalau Engkau hendak menyiksa kami, tidak ada sesuatu tanganpun yang dapat menolaknya, tetapi Engkau ya Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, ya Allah bagaimana kami tidak akan meneteskan air mata, karena mensyukuri nikmat-Mu, padahal disaat-saat kami menantikan kehancuran total, Engkaulah yang memberikan jalan dan hidayah. Alangkah besarnya Nikmat-Mu ya Allah, untuk menghadapi segala tantangan hidup yang dihadapkan kepada kami. Berilah kepada kami sekalian anak cucuku karunia dan rahmat-Mu. Teteskan kepada kami rasa kekeluargaan dan persatuan yang mendalam dan hilangkanlah sifat kemurkaan dan perpecahan.
Berikanlah kami iman, Engkau yang memimpin kami, iman yang penuh di dada, iman yang membaja yang tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas. Jadikanlah kami ini semua, yang mampu menghadapi segala gelombang yang bagaimanapun dahsyatnya didunia yang fana ini. Ya Allah, lindungilah kami ini semuanya untuk melaksanakan tugas-Mu yang suci dan murni ini, demi kepentingan Agama, Bangsa dan Negara kami semuanya.

Catatan :
Orang tua disini termasuk mertua. Mertua adalah orang tua dari suami atau isteri, hormati dan sayangilah mertua seperti menghormati orang tua sendiri. Mereka tidak mengharapkan apa-apa, mereka hanya mengharapkan adanya perhatian. Misalnya saat mereka berkunjung kerumah, berilah sambutan yang hangat dan ramah. Ketika mereka berulang tahun, berilah ucapan selamat. Bila diundang makan datanglah, ingatlah kita pun kelak akan menjadi mertua. Tentunya kita pun mengharapkan kalau menantu kita juga berbuat demikian. Pada hari libur ajaklah anak kita sekali-kali menengok/ berkunjung ke kakek dan neneknya, hal ini akan membahagiakan mereka. Dengan saudara ipar pun kita harus rukun, karena anak-anak kita kelak juga akan mempunyai saudara ipar, dan kita tentu ingin agar anak-anak kita juga rukun dengan saudara-saudara iparnya.

Sumber : Wasiat Untuk Anak Cucuku! pengarang R.A. Koesen (cetakan ke-2) dan sumber lainnya.



Monday, January 18, 2010

Waktu Terbaik Seorang Hamba

Sebaik-baik saat dalam hidup kita adalah saat dimana kita merasa sangat membutuhkan Allah. Ketika kita merasa tidak berdaya, tidak berarti apa-apa. Sesungguhnya, itulah saat terbaik seorang hamba.

Maka jika ada yang bertanya, apakah rezeki yang paling besar? Jawabannya adalah saat kita diberikan taufik, menjadi orang yang merasa tidak berdaya di mata Allah. Orang seperti ini merasa segala ilmu, pengalaman, kemuliaan yang boleh jadi didapatkannya, tidak berarti apa-apa di sisi Allah. Yang ada hanyalah rasa malu kepada Allah.

Sebaliknya, ketika kita merasa bisa, merasa mampu, menganggap diri memiliki ilmu, pengalaman, amal shaleh, maka itulah hijab yang membuat kita terhalang dari pertolongan Allah. Karenanya, saat paling mustajabnya doa adalah ketika kita mengaku tidak berdaya apa-apa, hina, kotor, bahkan merasa tidak mempunyai kebaikan sedikit pun yang bisa dipersembahkan kepada Allah. Sekaligus, ia juga mengakui karunia Allah yang sangat besar, banyak, tak terhitung yang senantiasa dilimpahkan kepadanya. Sejatinya, pada waktu seperti itulah saat terbaik seorang manusia.

Dan jika tidak, jika merasa diri memiliki semuanya, Allah akan memberikan 'bonus' yang akan menyadarkan dirinya. Pertama, akan dicabut ketenangan hati dari diri. Selalu resah dan gelisah. Tidak pernah tenang menghadapi apa pun. Bagaimanakah orang seperti ini akan menikmati hidup?

Bonus kedua, setiap menghadapi sebuah masalah, akan berbuah masalah baru, atau masalah lainnya yang juga pelik. Segala upaya yang dikerahkan untuk menyelesaikan masalah tidak berhasil, karena tidak dituntun Allah. Sungguh menyedihkan orang seperti ini, hidupnya tidak pernah tenang karena tidak bisa menyelesaikan masalahnya.

Jadi, bila ingin menikmati hidup bahagia, belajarlah terus merendahkan diri dihadapan Allah. Merasa diri tidak memiliki apapun, semuanya hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa serta merta diambil Allah. Dan juga harus merasa diri hina, banyak melakukan dosa dan tidak memiliki amal shalih, sehingga senantiasa menjadi motivasi untuk terus beramal terbaik. Itulah, saat terbaik seorang hamba yang sangat disukai Allah. Kalau sudah demikian, pasti akan tersingkap hijab seorang hamba dan Allah, niscaya hanya kebahagian hidup yang akan dirasakan seorang hamba itu.

Semoga kita dimampukan Allah menjadi orang yang senantiasa malu, merunduk kepada Allah. Sangat malu, tidak ada apa-apanya. Karena, tidaklah ada orang yang merendahkan diri dan hatinya kecuali akan diangkat derajatnya oleh Allah, insya Allah.

Sumber : Swadaya

Sunday, January 10, 2010

Ingatlah Selalu Allah SWT Maha Penolong

Mendekatlah kepada Allah SWT kapanpun juga, jangan kau pilih-pilih apalagi hanya 'sisakan' waktumu

Saat air mata berderai membasahi pipi,
Saat hati terasa tercabik-cabik,
Saat kehidupan terasa menghimpit,
Saat keputus-asaan semakin mendekat,

Kemanakah anda akan pergi ?


Lalu sudahkah kita mengenal Allah SWT? tanyakanlah pada hati kita masing-masing.
Apa yang tidak mungkin bagi Allah ?, apa yang tidak bisa Allah lakukan ?
Ketika kita merasa himpitan hidup terasa menyesak ditenggorokan, datanglah kepada Allah, memohon kepadanya, datang dan curahkanlah hati kepada Allah, Allah lah yang memiliki kita, Allah yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu yang ada pada diri kita. Katakanlah : "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Ditangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukkan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)."
(Q.S Ali 'Imron 26, 27)

Saudaraku, tiada satupun yang dapat menahan Allah SWT jika sudah berkehendak.

Kenalilah Allah SWT lebih dalam,
berbicaralah kepada Allah SWT setiap saat,
saat ujian-demi ujian Nya terasa tak mampu ditanggung oleh sendiri,
saat bibir bergemetar hingga tak mampu berucap,
hati menjelma menjadi serpihan-serpihan kecil maka berwudlu-lah, kemudian Shalat-lah,
bacalah Al-Quran,
berdo'a lah kepada Allah SWT,
ber Sedekah dengan apa yang ada dan pasrahlah kepada Allah,
kembalikan semuanya kepada Allah

Insya Allah akan memberikan ketenangan, kesejukan dan kebahagiaan atas ujian yang kita lalui.
Mendekatlah kepada Allah kapanpun juga, jangan kau pilih-pilih apalagi 'sisakan' waktumu, diwaktusempit maupun lapang, diwaktu miskin atau berpunya, diwaktu susah dan juga bahagia. Karena itulah salah satu ciri orang beriman yang sebenar-benarnya.

"Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh ALlah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(Q.S Faathir [2])
Wallahu'alam bishawab.

Sumber : Percikan Iman

Tuesday, December 29, 2009

Ikhlas

Apabila orang yang beramal karena mengharap ketenaran dan kedudukan, tentu akan bermalas-malasan atau merasa berat, jika ada pertanda harapannya akan kandas. Orang yang beramal karena mencari muka di hadapan pemimpin atau penguasa, tentu akan menghentikan amalnya, jika pemimpin tersebut turun dari jabatannya.

Ikhlas merupakan salah satu dari berbagai amal hati. Amal akan menjadi sempurna, hanya dengan ikhlas. Amal yang tidak disertai dengan ikhlas, ibarat gambar mati atau raga tanpa jiwa. Allah SWT hanya menginginkan hakikat amal, bukan rupa dan bentuknya. Dia menolak setiap amal yang pelakunya tertipu dengannya.

Maksud ikhlas di sini adalah menghendaki keridhaan Allah SWT dengan suatu amal, membersihkannya dari segala noda individual maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah SWT. Praktis dalam ikhlas, tidak ada noda yang mencampuri suatu amal. Imam Al Ghazali pernah mengatakan bahwa segala sesuatu digambarkan mudah bercampur dengan sesuatu lainnya. Jika bersih dari pencampurannya dan bersih darinya, maka itulah yang disebut murni. Perbuatan yang bersih dan murni disebut ikhlas.

Allah SWT berfirman, ''... (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.'' (QS An Nahl: 66). Kemurnian susu itu diukur tanpa adanya campuran kotoran dan darah atau segala sesuatu yang memungkinkan bercampur dengannya. Ikhlas kebalikan syirik. Siapa yang tidak ikhlas, berarti dia musyrik. Hanya saja syirik itu mempunyai beberapa derajat.

Ikhlas dalam tauhid kebalikan dari syirik dalam uluhiyah. Syirik ada yang tersembunyi, ada pula yang terang-terangan. Begitu pula ikhlas. Ikhlas dan kebalikannya sama-sama menyusup ke dalam hati karena memang hatilah tujuannya. Ikhlas akan memberikan kekuatan untuk beramal secara berkesinambungan. Seseorang yang beramal karena nafsu perut akan menghentikan amalnya bila tidak mendapatkan sesuatu yang mengenyangkan nafsunya.

Orang yang beramal karena mengharap ketenaran dan kedudukan, tentu akan bermalas-malasan atau merasa berat, jika ada pertanda harapannya akan kandas. Orang yang beramal karena mencari muka di hadapan pemimpin atau penguasa, tentu akan menghentikan amalnya, jika pemimpin tersebut turun dari jabatannya. Sedangkan orang yang beramal karena Allah SWT, tidak akan memutuskan amalnya, tidak mundur, dan tidak malas-malasan sama sekali. Sebab, alasan yang melatarbelakangi amalnya tidak pernah sirna.

Allah SWT berfirman, ''Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.'' (QS Al Qashash: 88). Upaya mengetahui hakikat ikhlas dan pengamalannya laksana lautan yang dalam. Semua orang bisa tenggelam di dalamnya, kecuali hanya sedikit. Inilah yang dikecualikan dalam firman Allah SWT, ''Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.'' (QS Shad: 83).
Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Sumber : Republika, www.oaseislam.com

Tuesday, December 15, 2009

Rasulullah S.A.W. dan Pengemis Yahudi Buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah S.A.W. mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah S.A.W. menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah S.A.W melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad S.A.W. wafat. Setelah kewafatan Rasulullah S.A.W. tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah s.a.w. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "Aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah s.a.w. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Sumber : http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/1001kisahteladan4.htm

Monday, December 7, 2009

Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan dibesarkan dalam sekolah Islam dan terdidik dengan ilmu Al-Qur’an. Ayahnya adalah seorang khalifah. Abdul Malik bin Marwan dan suaminya juga seorang khalifah, yakni Umar bin Abdul Aziz. Keempat saudaranya pun semua khalifah, yaitu Al Walid Sulaiman, Al Yazid, dan Hisyam.

Ketika Fatimah dipinang untuk Umar bin Abdul Aziz, pada waktu itu Umar masih layaknya orang kebanyakan bukan sebagai calon pemangku jabatan khalifah. Sebagai putera dan saudari para khalifah, perkawinan Fatimah dirayakan dengan resmi dan besar-besaran, dan ditata dengan perhiasan emas mutu-manikam yang tiada ternilai indah dan harganya. Namun sesudah perkawinannya usai, sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah dan Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pilihan kepada Fatimah, isteri tercinta. Umar berkata kepadanya, “Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua.”
Fatimah bertanya kepada suaminya, “Memilih apa, kakanda?”
Umar bin Abdul Azz menerangkan, “Memilih antara perhiasan emas berlian yang kau pakai atau Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu.”
“Demi Allah,” kata Fatimah, “Aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku.”

Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal, kas Negara kaum muslimin. Sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit.
Pada suatu hari raya puteri-puterinya datang kepadanya, “Ya Ayah, besok hari raya. Kami tidak punya baju baru…”
Mendengar keluhan puteri-puterinya itu, khalifah Umar berkata kepada mereka. “Wahai puteri-puteriku sayang, hari raya itu bukan bagi orang yang berbaju baru, akan tetapi bagi yang takut kepada ancaman Allah.”
Mengetahui hal tersebut, pengelola baitulmal berusaha menengahi, “Ya Amirul Mukminin, kiranya tidak akan menimbulkan masalah kalau untuk baginda diberikan gaji di muka setiap bulan.” Umar bin Abdul Aziz sangat marah mendengar perkataan pengurus Baitulmal. Ia berkata, “Celaka engkau! Apakah kau tahu ilmu gaib bahwa aku akan hidup hingga esok hari!?”

Ketika ajalnya hampir tiba, beliau meninggalkan 15 orang anak lelaki dan perempuan. Banyak keluarganya yang datang menanyakan apa yang ditinggalkannya pada keluarganya. Jawaban Umar bin Abdul Azis ialah, “Aku tinggalkan untuk mereka ketaqwaan pada Allah. Kalau mereka tergolong orang yang shaleh, maka Allah telah menjamin akan mengayomi mereka. Tetapi kalau mereka tergolong orang yang tidak sholeh, aku tidak akan meninggalkan apa pun yang bisa mereka gunakan untuk bermaksiat pada Allah.”
Kemudian Umar bin Abdul Aziz memerintahkan karib kerabat dan isterinya, Fatimah agar meninggalkannya seorang diri. Ujarnya, “Fatimah isteriku, keluarlah dan tinggalkan aku sendiri menyambut kedatangan makhluk asing yang sedang memasuki kamarku ini. Mereka bertubuh nurani, beraneka ragam sayapnya. Ada yang bersayap dua, tiga, dan empat. Tinggalkanlah aku sendirian wahai sayangku. Rohku sudah siap menyertai para pengawal itu menjadi tamu agung Allah Ar-Rahman.”
Menjelang rohnya menginggalkan jasadnya, beliau mengulang-ulang firman Allah swt : “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Qashash 83)
Demikianlah Umar bin Abdul Aziz menginggalkan dunia yang fana ini. Dia digantikan oleh iparnya, Yazid bin Abdul Malik.

Pada suatu hari Yazid memanggil saudarinya, Fatimah seraya berkata, “Fatimah, aku tahu suamimu, Umar bin Abdul Aziz telah merampas semua perhiasanmu dan memasukkannya ke Baitulmal. Kalau engkau mau, maka akan kukembalikan lagi perhiasan itu kepadamu.”
Dengan tegas Fatimah menjawab, “Ya Yazid, apakah kau hendak memaksaku mengambil apa yang oleh Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz telah diberikan kepada Baitulmal? Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, aku tidak akan menaatinya pada waktu hidup dan menggusarkannya sesudah beliau meninggal dunia walaupun hanya sedikit.”

Kekuasaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz hanya berusia tiga puluh bulan, tetapi kekuasaannya yang singkat itu bagi Allah Ta’ala bernilai lebih dari tiga puluh abad. Beliau meninggalkan dunia fana ini dalam usia muda, yakni pada usia empat puluh tahun. Pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, pasukan kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Pada waktu itu kekuasaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol berada di bawah kekuasaannya.

Sumber : http://www.oaseislam.com

Sunday, November 22, 2009

Free Download Software Multi Fungsi Penunjuk Jadwal Waktu Sholat

Menurut pendapat saya pribadi ini software yang bagus untuk dimiliki, bagi rekan-rekan yang beragama Islam tidak ada salahnya untuk mencoba dulu, siapa tahu ada manfaatnya. Software Salaat Time 2.0 memiliki beberapa fungsi/ kegunaan antara lain : ada jadwal waktu Sholat, penunjuk arah Kiblat, kalender Hijriah, dll.

Bagi yang memerlukannya silahkan download di bawah ini :
http://www.softplatz.com/Info/Salaat-Time.html atau langsung klik Disini.

Selamat mencoba.

Thursday, November 12, 2009

Islamic Widget

http://chyardi.blogspot.com, chyardi.blogspot.com, chyardi, chyardi's blog, islamic widget, islamic, widgetBagi rekan-rekan yang beragama Islam yang mungkin memerlukan atau menginginkan widget Islam untuk dipasang di website atau blog milik rekan-rekan, Contohnya seperti widget Asmaul Husna yang ada disamping ini, atau mungkin widget yang lainnya.

Untuk widget Asmaul Husna ini dapat diatur tampilannya, warnanya, ukurannya dan sebagainya, disesuaikan dengan website atau blog milik rekan-rekan.
Jika rekan-rekan sekalian tertarik untuk memilikinya bisa mendapatkannya di alhabib islamic widget alamatnya di www.al-habib.info atau bisa langsung mengklik widget tersebut yang ada dibagian kanan website ini. Disana ada banyak pilihan widget.

Untuk pilihan widget Asmaul Husna rekan-rekan dapat langsung klik disini.

Semoga bermanfaat.

Saturday, November 7, 2009

Tak Terkenal Di Bumi Tapi Terkenal Di Langit

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”. Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.

Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya.

Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua.

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! ”katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? ”Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.“Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi menjadi terkenal di langit.

--- oOo ---